Featured

First blog post

This is the post excerpt.

Advertisements

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Apa sih yang diharapkan dari klub sepak bola?

Dunia sepak bola dan warna-warni para suporter memang takkan hilang ditelan zaman. Olahraga ini seperti punya kekuatan untuk membuat seseorang melakukan apapun, mungkin ini adalah apa yang disebut dengan fanatisme.
Saya sendiri pernah tergila-gila pada salah satu klub liga inggris, Arsenal. Kegilaan saya bermula semenjak kelas satu SMA karena jatuh cinta dengan Theo Walcott dan Sczcesny, ditambah teman-teman saya yang lain adalah pendukung tim rival seperti Liverpool, MU bahkan Tottenham yang saat itu dikenal sebagai musuh bebuyutan. Ada hal yang paling mengesankan selama saya mendapat sebutan gooneretes, saya punya teman baru, juga rival baru dalam bentuk teman sekolah. Tentu saja kami akrab, semua berjalan normal. Tapi keadaan berubah ketika jadwal liga Inggris menunjukkan tim kebanggaan kami bermain. Dari situlah negoisasi bermunculan. Ya, kami taruhan dengan cara tebak skor. Biasanya, yang jadi bahan taruhan sekotak susu Ultramilk, atau pulsa goceng. Kami begadang bersama di tempat yang berbeda. Babak satu selesai, kami saling menghujat dan memaki sampai pertandingan selesai. Memang, memang, saya akui, tidaklah mudah untuk menjadi bagian dari pendukung militan sebuah klub sepak bola. Perlu mental dan hati yang lapang. Arsenal saat itu dikalahkan MU dengan skor tipis. Saya benar-benar tidak bisa tidur. Besoknya di sekolah, saya dimaki dan ditantang untuk pertandingan selanjutnya. Dia mendapat sekotak susu Ultramilk, saya dapat hinaan. Impas.
Hanya sebatas itu.

Kebiasaan itu berlangsung selama tiga tahun. Sekarang saya sudah sedikit tidak mengikuti jadwal pertandingan, walaupun sesekali nonton bareng bapak. Lengkap pakai jersey dan syal Arsenal. Tapi, sebenarnya apa sih yang kita harapkan dari klub sepak bola?
Kita bertaruh banyak hal, mulai dari materi sampai harga diri. Tapi feedback yang kita dapat adalah kepuasan. Hanya kepuasan.
Yang mengerikan adalah, kalau sampai nyawa ikut-ikutan jadi tumbal. Biasanya ini yang dilakukan oknum suporter norak di indonesia. Jujur, saya ingin membisikkan kata bangsat pada daun telinga mereka satu persatu. Tapi, toh itu takkan pernah bisa membuat mereka sadar. Loyalitas dan kesetiaan untuk mendukung tak ada apa-apanya dibanding menjaga keutuhan nyawa sendiri. Manusia memang tercipta untuk tidak pernah merasa puas. Tapi sebenarnya, apa sih yang kamu harapkan dari sebuah klub sepak bola?

Salam olahraga.

Titik Temu

Stasiun Kiara Condong, Bandung 14 Agustus 2018, 17.00 WIB

“Kamu sehat?” suara deru kendaraan jalanan membuat bising seisi kota. Suaranya hampir tak terdengar, tapi aku bisa melihat jelas wajahnya didepanku. Tangannya menggantung gemetaran, hidungnya merah seperti habis menangis. Lucu rasanya melihat lelakiku menangis lagi, terakhir kudapati dia seperti itu saat kukabari kepindahan lokasi kerjaku ke Yogyakarta. Aku mengangguk, memberi isyarat kalau selama ini aku baik-baik saja. Selama tiga tahun tanpanya aku masih sehat walafiat, tanpa ketakutan-ketakutan yang selalu ia katakan.
“Tasnya berat? Aku bawain, ya?” dia merebut jinjingan besar yang berisi oleh-oleh untuk ibu di rumah. Lalu kami mulai berjalan menuju kursi panjang yang disediakan stasiun untuk beristirahat. Kami duduk bersebelahan, bahu kami berdekatan hanya berjarak beberapa sentimeter. Pundaknya masih menjadi tempat kesukaanku selama empat tahun ini, dadanya yang bidang—lelakiku atlet bulu tangkis— seolah menyuruh untuk aku segera tertidur diatasnya.
“Gimana kerjaan? Lancar?” hiruk-pikuk orang berlalu lalang di sekitar stasiun mulai berkurang, Bandung beranjak sore, bayangan oranye sudah mulai muncul diatas permukaan langit. Warnanya merona, malu-malu keluar dibalik awan, sementara angin membelai rambutku lembut, lewat begitu saja.
Aku mengangguk lagi. Pekerjaanku menyenangkan, ditambah kawan-kawanku sangat ramah dan perhatian. Dia harus tahu itu. Tapi jujur, kerinduan yang kutahan tak bisa dibandingkan dengan apapun.
“Sil, tahu nggak… tiga tahun jauh dari kamu, kukira mudah…” dia menghela nafas lagi “Ternyata mengerikan…….” lalu tertawa hambar. Kupandangi bola matanya yang kecoklatan dengan lekat. Tak banyak perubahan pada dirinya yang kutemukan, selain cara berpakaian yang lebih baik, juga janggut kecil yang mulai tumbuh di ujung dagunya.
“Aku nggak nyangka deh, ternyata kita sekuat ini.” tatapannya lurus kedepan, aku bisa melihat rasa bangga dalam dirinya, lalu pamer pada tiang-tiang, kursi, tempat sampah stasiun kalau kami memang penakluk jarak yang hebat. Ya, aku tahu. Kalimat itu sering kudengar jika sesekali dia menelponku malam-malam, baginya, itu adalah rapalan mantra yang kuat untuk membuat kita bertahan.
“Sil, aku kangen….boleh kan, megang tangan kamu?” aku menaikkan alisku sambil mengangguk, kami terbiasa seperti ini–meminta ijin jika ada kontak fisik, kemudian ia menggenggam tanganku erat. Telapak tangannya basah kena keringat, tapi terasa hangat pada tanganku yang seharian terkena AC kereta. Ia tersenyum, tingkahnya yang kekanakkan terkadang membuatku lupa kalau dia sudah matang dan dewasa.
“Aneh ya, rasanya nggak berubah…..tetep deg-degan.” Dia melirik ke arahku sambil tersenyum. “Nih, dengerin…” tanganku ia letakkan tepat di dada kirinya. Bisa kurasakan dentuman jantung yang bersahutan. Kami tertawa, tapi tangannya tetap menggenggamku.

Seseorang pernah bilang, ada sesuatu di dunia ini yang kadang, nggak bisa dimengerti. Tentang; kenapa sebuah pertemuan selalu menjadi hal yang menakutkan hanya karena akan ada perpisahan setelahnya. Seseorang datang dan pergi dengan rentang waktu yang berbeda, ada yang dalam waktu yang tepat dan waktu kurang tepat. Yang terakhir adalah keadaan dimana rindu selalu menjalar–menerobos nalar, dan meracuni naluri perlahan.

Bandung sore ini terasa lebih mesra, lelakiku datang menjemputku di stasiun dengan tangannya yang terbuka lebar untuk cepat-cepat memelukku, seolah aku baru saja pulang dari tempat berbahaya. Pelukannya masih menenangkan seperti dulu, seperti tiga tahun terakhir kita berpelukan di tempat yang sama.
14 Agustus 2018
(Gambar diambil dari webtoon Matahari Setengah Lingkar)

Keajaiban Kinderjoy yang agung

Seperti telur tapi bukan telur, cangkangnya berwarna merah mengkilap, berisi kejutan yang berisi mahakarya berupa mainan dan bola coklat. Nama harta karun itu adalah Kinderjoy. Ya, kita pasti sering melihat benda ajaib itu _nongkrong_ di garda terdepan kasir supermarket. Berdiri dengan gagah di antara coklat-coklat borjuis dan permen mint. Kinderjoy, semua orang mengetahuinya sebagai cemilan kelas menengah keatas dengan harga yang fantastis. Coklat jebolan Italia ini beberapa kali sempat viral karena postingan seorang Ayah yang mengeluh ketika anaknya tiba-tiba histeris di depan kasir sambil merengek minta dibelikan kinderjoy.
Alhasil, sambil menahan malu, sang Ayah terpaksa membeli telur tersebut dengan merogoh kocek hampir sama dengan sepiring ketoprak.

Kejadian seperti ini barangkali bukan hanya sekali-dua kali terjadi, banyak orang tua yang resah dan enggan mengajak anaknya ke supermarket dengan alasan paranoid dengan rengekan memalukan sang anak.
Setelah beberapa waktu saya melakukan penelitian, ternyata ada beberapa hal yang membuat Kinderjoy menarik perhatian anak-anak, dengan kekuatan magnet, maka jurus jitunya adalah:
1. Bentuk kemasan yang menarik dan hadiah
Kalau teman-teman perhatikan, bentuk Kinderjoy yang berbentuk telur ini bukan hanya membuat penasaran, tapi ada kemasan ini pun mengandung perbedaan gender! Luar biasa! Pasalnya, Kinderjoy yang berwarna biru muda dikhususkan untuk anak laki-laki, dan Kinderjoy berwarna Merah muda untuk anak perempuan. Gagasan cemerlang ini bisa terjadi disebabkan oleh penentuan isi mainan utk laki-laki dan perempuan. Berisi mainan pula, saudara-saudara.

2. Rasa yang aduhay
Walaupun dalam seumur hidup saya selaku proletar tidak pernah mencicipi makanan mewah ini, tapi setelah melakukan survey ternyata 9 dari 10 anak menjawab dengan sigap bahwa rasa dari telur ini sangat ena.

3. Strategi Marketing yang cerdas
Posisi depan kasir sudah menggambarkan bahwa produk keluaran Ferrero ini memang mempunyai strategi marketing yang cerdas. Bayangkan jika Kinderjoy berada di posisi berdekatan dengan Nutrijell yang berada di rak paling atas, saya jamin Kinderjoy ini tidak akan terkenal spt sekarang ini.

Dengan kekuatan 3 poin tadi, harga yang ditawarkan oleh Ferrero untuk pasar indonesia sekitar 13ribu rupiah alias hampir setara dengan harga setengah kilo telur sungguhan!

Begitulah kiranya kebiadaban marketing yang tidak pengertian dengan keadaan dompet para orang tua yang panceklik. Maka saran terbaik saya adalah jangan mengajak anak-anak ke supermarket atau kalau ikut, tutup matanya dengan kaindengan dalih kejutan.
Selamat mencoba!

Hal-hal yang kerap ditemukan saat lebaran

“Ketika tangan tak mampu berjabat………….”

Begitulah kira-kira awal dari isi pesan yang kerap ditemukan ketika lebaran menjelang. Pesan whatsapp mendadak ramai oleh broadcast permintaan maaf dari masing-masing kontak, tidak lupa disertakan doa dan artinya, juga atas nama keluarga besar di barisan paling bawah. Belum lagi status whatsapp yang hampir semuanya meminta maaf, instastory, atau status facebook dan twitter yang berisi permintaan maaf, pergi ke atm lalu mesin meminta maaf karena saldo kosong, menelpon gebetan operator meminta maaf karena pulsa habis dan hal hal lainnya yang menuntut kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf.

Esoknya, status dan broadcast permintaan maaf akan tersingkirkan oleh display picture, dan postingan-postingan memakai mukena baru dengan motif yang ciamik, berpayet warna-warni, menyungging senyum keikhlasan di hari yang syahdu. Lalu berfoto bersama dengan pakaian bagus bersama keluarga, ada yang bergaya formal, sungkem dengan khusyu, pamer ketupat dan opor ayam bahkan video tiktok sekalipun.

Kegiatan-kegiatan tsb sebenarnya manusiawi dan normal, apalagi dengan teknologi yang semakin modern, orang-orang lebih leluasa untuk mengekspresikan kebahagiaannya di hari yang fitri.

Walau harus tahan dengan pertanyaan-pertanyaan keponakan, dari kapan lulus sampai kapan kawin?
Selain ajang maaf-maafan, lebaran pun cocok dijadikan momen menaikkan derajat di mata Allah karena telah berusaha sabar dan ikhlas membalas pertanyaan-pertanyaan bebal dengan sunggingan senyuman yang manis bagai nastar dan kue salju.

Tapi sebenarnya, apakah esensi dari lebaran tersebut?
kata Fitri yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan, keburukan berdasarkan dari akar kata fathoro-yafthiru, itu artinya Makna dari Idul fitri adalah kembali suci, atau mensucikan, hal ini bisa ditemukan dalam tradisi Zakat Fitrah yang artinya sama-sama suci.

Mari kembalikan esensi idul fitri sebagai ajang evaluasi diri, bukan pamer sudah khattam berjilid-jilid selama ramadhan, atau menumpuk kekayaan (THR) dengan penuh rasa congkak. Wqwq.

Bhaiqla, selamat lebaran dan makan kue nastar!!!! Kue nastar adalah kedaulatan!

Bagaimana Feodalisme Perancis memberangus kaum Perempuan

Evolusi kondisi perempuan bukan merupakan suatu kondisi yang berlangsung secara konsisten. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul tentang peradaban disuarakan ketika invasi besar-besaran terjadi. Pada abad pertengahan hingga kedelapan belas di Perancis, Hukum yang berlaku saat itu adalah; Hukum Kristen. Dan pada abad-abad selanjutnya, para kaum bar-bar memaksakan hukum-hukum mereka. Dampaknya, situasi ekonomi, politik, sosial berubah drastis dan itu adalah apa yang terjadi pada kaum Perempuan.
Dan pada saat itu orang-orang kecil dan perempuan memegang teguh hukum baru ini. Tapi disini, saya tidak akan menjelaskan bagaimana sistem hukum Ideologi kristen tersebut berjalan, melainkan ada ideologi yang lebih berbahaya dan jauh dari kata adil. Yaitu, Feodalisme atau pembagian kelas-kelas sosial.

Feodalisme sendiri menurut KBBI adalah sistem sosial di Eropa pada Abad Pertengahan yang ditandai oleh kekuasaan yang besar di tangan tuan tanah. Jika pada masa abad pertengahan perempuan sangat bergantung pada ayah dan suaminya, maka di saat yang lainn feodalisme meledak di abad pertengahan dan ini menyebabkan posisi perempuan menjadi tidak stabil.
Simone de beauvoir, dalam bukunya yang berjudul The Second Sex jilid 1 menjelaskan bahwa kemunculan Feodalisme menimbulan kerancuan otoritas antara kedaulatan dan kepemilikan, antara hak-hak umum dan pribadi serta kekuasaan.
Hal ini menjelaskan mengapa perempuan mengalami perlakuan yang labil antara dimuliakan dan direndahkan dibwah rezim ini.
Terbukti dengan adanya peraturan Perempuan bisa jadi ahli waris bila tidak ada ahli waris laki-laki, tetapi suaminya menjadi pengawas dan melakukan kontrol atas warisan dan pendapatannya, perempuan adalah bagian dari tanah warisan sehingga tidak bisa disebut merdeka.
Kasus lainnya adalah mereka yang menyandang status janda. Dalam beberapa kisah, pada chansos de gente misalnya, Charlemagne mengawini seluruh janda yang baron-non baronnya terbunuh dan dia memperlakukan semua istrinya dengan biadab. Mereka (istri-istri) dipukuli, dijambak, diseret, dan diperlakukan tidak manusiawi. Masih banyak kisah-kisah kekerasan yang akhirnya sampai pada kita hingga saat ini.

Seiring berjalannya waktu, perempuan dengan segenap perjuangannya mampu untuk mengakhiri feodalisme. Kekuasaan-kekuasaan semakin terkikis karena pada penguasa saat itu kehilangan otoritasnya termasuk hak menentukan perkawinan budaknya.

Di prancis, perempuan perempuan yang tidak terikat oleh status perkawinan mempunyai kebebasan yang setara dengan laki-laki seperti mendapat hak warisan, mengemukakan pendapat, dan menandatangani perjanjian.
Namun tidak sampai disini, abad pertengahan bukanlah akhir perjuangan para perempuan perancis. Masih ada abad delapanbelas dan setelah revolusi perancis, termasuk kisah olympe de gougs yang giat menuliskan surat kepada PBB untuk mengajukan deklarasi hak-hak perempuan sebagaimana adanya deklarasi hak-hak laki-laki. Tapi kisahnya berakhir pilu karena harus berpisah di tali gantung.

Barangkali, sistem feodal yang saat itu sangat mengekang perempuan menjalar sampai penjuru dunia, terus mengakar seolah-olah diwariskan. Termasuk indonesia. Banyak sekali faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kebebasan-kebebasan perempuan yang tidak pernah dihilangkan. Feodalisme sipil perkawinan tetap berlangsung selaras dengan feodalisme militer; suami tetap jadi wali istrinya.
Ketika melihat sejarah feodal perancis, seolah kita melihat sistem kasta yang berlaku di indonesia pada zaman dahulu, perempuan masih termarjinalkan, tersubordinasi dan kehilangan hak-haknya.
Begitulah ringkasan sejarah bagaimana sebuah ideologi memberangus manusia untuk merdeka. Ideologi seharusnya melanggengkan ketentraman bagi kesejahteraan umat, bukan membatasi atau bahkan membunuh kebabasan.

Upaya menikmati kesendirian

Assalamualaikum. Shalom aleichem. Om swastyastu. Namo budhayya. Salam sejahtera bagi kita semua. Spada. Sampurasun dan segala macam salam kuucapkan pada seluruh mahluk di dunia yang fana ini.

Nama saya N, sebuah nama samaran yang jauh dari nama asli, kukira itu bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. 21 Tahun, dan senang menyendiri, tapi bukan berarti tidak punya jiwa sosyel. Keseharian saya sangat sibuk, sibuk sekali sampai tidak punya waktu untuk sekedar gigit kuku jari tangan, atau memainkan bentol bekas gigitan nyamuk. Saya sibuk sekali, kamu perlu tahu itu.

Saya bekerja atau istilah halusnya merelakan diri sebagai pegiat ini itu yang sekiranya mendatangkan manfaat dan maslahat bagi masyarakat. Mengambil ideologi Feminisme dan kesetaraan gender, memenuhi isi kepala dengan pemahaman juga teori bagaimana seorang perempuan harus sama derajatnya dengan lelaki, menentang segala bentuk patriarki apalagi misogini.

Teman-teman saya tahu itu, tidak jarang dari mereka yang berkonsultasi, curhat, atau meminta didoktrin untuk mempunyai ideologi yang sama.

“Feminisme tuh keren! Jadi kayak jagoan gitu hehe.”

Hell, kenapa masih ada stigma yang menyebalkan seperti ini? Tidak sayang, bukan… Feminisme bukanlah ajang untuk menjadi perempuan jagoan atau sangar. Feminisme berangkat dari kekhawatiran para aktivis feminis untuk melawan penindasan-penindasan yang dilakukan pada kaum perempuan.

Tapi sayangnya tulisan ini bukan untuk membahas Feminisme, kurasa kalian bisa menemukannya di media sosial yang referensinya lebih akurat dan jelas.

Disini, seakan hujan menahan saya untuk tetap tinggal dan membuka wordpress yang mulai berdebu, maka ijinkanlah saya untuk membahas Kesendirian.

Bagai langit terbakar halilintar dan menjalar menuju isi kepalamu yang usang, saya tahu reaksimu akan seperti apa. Ya seperti itu, kira-kira. Kamu tak bisa menyembunyikannya.

Kesendirian adalah suatu perasaan otonomi, sehingga pengertian perilaku mandiri adalah suatu kepercayaan diri sendiri, dan perasaan otonomi diartikan sebagai perilaku yang terdapat dalam diri seseorang yang timbul karena kekuatan dan dorongan dari dalam diri seseorang yang timbul karena kekuatan dorongan dari dalam tidak karena terpengaruh oleh orang lain. (Bawer dalam Chabib Toha, 1993:121)

Sebagai orang sibuk, kegiatan ini seolah menyenangkan, maaf maksudku benar-benar menyenangkan. Bayangkan, kamu bisa meluangkan waktu untuk berkencan dengan dirimu sendiri, dan pergi ke suatu tempat tanpa ada intervensi dari orang lain. Misalkan, pergi ke beberapa tempat makan dan memberi nama-nama yang berbeda di setiap tempatnya.

Opsi pertama yang bisa kamu pilih, adalah kedai kopi, maka kamu bisa memesan minum dan mengaku nama “Simone de beauvoire” pada waiter, setelah itu teguklah sedikit demi sedikit kopi yang kamu genggam, dan mulailah merenung bagaimana bisa tuhan menciptakan barista yang tampan dan lihai dalam meracik kopi, mungkin Dia menitipkan kekuatan estetik pada setiap goyangan jemarinya. Atau, bagaimana bisa lampu-lampu bohlam berwarna tenang menggantung dengan tegar, menatap para pengunjung yang sibuk memainkan laptop, pacaran, atau merenung seperti saya. Jika kalian ingin tahu, ini adalah cara bagaimana para filsuf bekerja. Keren bukan?

Tempat kedua adalah Mie Xl, warung indomie yang harganya 3x lipat dari aslinya—yang menjadi beda adalah penyajian dan suguhan musik yang norak. Kamu bisa mengaku dengan nama “Happy Salma” kemudian makan mie dengan tingkat pedas yang bajingan, sampai kamu berfikir kalau mie ini ternyata campuran dari balsem geliga tapi masih kamu habiskan, atau berfoto dengan eskrim cone yang bentuknya seperti rambut jimmie neutron. Itu hal cupu sebenarnya, tapi persetan dengan asumsi orang, ini jalan ninjaku!

Hal seperti itu baiknya dilakukan berulang-ulang, itupun jika kamu punya cukup duit.

Alternatif lain adalah, bernyanyi-nyanyi kecil di taman kota sambil menikmati paparan ultraviolet yang menjamah kulitmu, atau sekedar membaca buku, berkenalan dengan orang tua dan mendengarkan kisah masa mudanya. Its such a beautiful things!

Jika selama ini masyarakat indonesia memberi cap ngenes untuk orang-orang yang suka menyendiri, maka tulisan ini berharap dapat memberi pemahaman kalau sebenarnya itu keliru, darling.

Setiap orang di alam dunia ini, mempunyai cara untuk menamai sebuah kebahagiaan, entah itu sendiri atau ramai. Tapi, untuk kalian yang masih tidak tahu cara membahagiakan diri sendiri, lekas pergi dan lupakan gadgetmu, cari orang baru dan beli apapun yang kamu mau.

Kesendirian, terkadang bisa diartikan sebagai upaya menghargai diri sendiri.

Iam happy with my own woman.

Terimakasih, salam cambuq.

Radikalisme berselimut syariat dan syurga

Menjelang malam, matahari masih enggan pergi dan bergiliran dengan warna langit oranye, 15 menit lagi adzan maghrib berkumandang tapi saya masih harus berkutat di kelas mendengar ustadz dosen berceramah tentang materi Fikih jinayah, kebetulan saat itu sedang berdiskusi tentang Qishas atau hukum pidana yang berlaku di negara yang meng-sahkan syariat islam re: Pencuri dipotong tangannya. Diskusi berlangsung suntuk dan membosankan, karena hari yang semakin gelap dan perut yang belum terisi, tapi selang 5 menit, seisi kelas geger dengan pernyataan “Seharusnya hukum qishas diberlakukan, daripada harus membeli fasilitas penjara–boros. Lebih baik qishas ditegakkan, to? Kalian itu mahasiswa seharusnya bisa lebih bersikap kritis. Bayangkan kalau qishas ditegakkan, para koruptor tidak akan ada lagi, dan negara akan lebih hemat karena tidak usah membeli fasilitas penjara.” hati saya mendadak ngilu mendengarnya, nggak tahu kalau teman-teman, sebagian reaksi dari mereka ada yang mengernyitkan dahi, tersenyum, melotot, ada juga yang menyikut lenganku “Bukan NU, to.” kubalas tatapan konyol sambil bilang bodo amat!

Qishas, adalah pembalasan (memberi hukuman yang setimpal), mirip dengan istilah “hutang nyawa dibayar nyawa”. Dalam kasus pembunuhan, hukum qisas memberikan hak kepada keluarga korban untuk meminta hukuman mati kepada pembunuh (wikipedia)

Sesaat, saya membayangkan jika Indonesia memberlakukan hukum seperti ini, dalam artian pidana. Kalau dalam artian hati, mungkin bisa disebut dengan Hukum Karma. Xixixi.

Melihat angka korupsi dan kriminal di Indonesia, sekilas saya setuju karena bagaimanapun masyarakat pasti menginginkan keadaan Negaranya baik-baik saja, stabil tanpa meributkan hal-hal kecil kemudian berujung menuju perpecahan. Tapi, disisi lain, Indonesia adalah negara Hukum yang menganut paham Pancasila, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Ditambah lagi, Hukum yang dipakai indonesia itu adalah Hukum yang berasal dari Belanda sejak jaman kolonialisme.

Keadaan hukum di Indonesia yang masih begini, tentu menjadi tamparan keras bagi para mahasiswa dalam mencapai elektabilitas hukum yang baik.

“Kalau begitu, negara ini malah akan jadi khilafah dong?” kawan saya yang disamping nyeletuk sambil mengigit pulpen Pilot yang hampir keriting.

Bapak dosen tersenyum senang, lalu melihat ke arah saya yang tersenyum getir, sorot matanya seolah meyakinkan bahwa dengan khilafah warga Indonesia akan menjadi ahli syurga, bahwa dengan khilafah kami bebas masuk pintu lewat manapun.

Qishas, memang diberlakukan hanya untuk negara yang menjalankan syariat islam seperti Iran dan Arab saudi. Saya sering mendengar orang Indonesia yang bernasib buruk disana, harus mengakhiri hidup karena ketahuan membunuh majikan (dalam upaya membela diri). Di indonesia sendiri, paling banter dihukum seumur hidup, kalaupun hukuman mati itupun ditembak.

Maka secara garis besar, qishas tak pernah jadi solusi yang manusiawi, dan tak pernah cocok diterapkan di Indonesia.

Kelas berakhir tertib, walau hati saya masih berantakan. Pak dosen membereskan ‘alat tempur’nya untuk kemudian bersiap-siap keluar.

Di ambang pintu, beliau tersenyum dan berkata:

“Indonesia akan Khilafah.”

Djancuk tenan!